KARENA, KEBAHAGIAAN ITU TAK TERNILAI HARGANYA

KARENA, KEBAHAGIAAN ITU TAK TERNILAI HARGANYA

Oleh: Rika Subana

Di Kelas Berbenah Sadis Elementary alias KBSE, saya sering mendapat pertanyaan tentang bagaimana memberikan barang dengan ikhlas.

Di awal kelas, para peserta merasa masih berat melepas barang. Banyak alasan yang dilontarkan. Ada yang beralasan karena barang itu pemberian seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, karena barang itu harganya mahal atau karena barang itu diperolehnya dengan susah payah.

Semua alasan itu wajar dan masuk akal. Yang tidak masuk akal adalah perasaan yang muncul ketika kita memaksakan diri untuk tetap memberikan barang itu kepada seseorang yang sangat membutuhkan.

Kok tidak masuk akal? Ya, tidak masuk akal. Karena di awal, kita merasa terpaksa memberikan barang itu kepada yang benar-benar membutuhkan. Namun, setelah kita memberikan barangnya, maka yang timbul adalah perasaan sangat bahagia. Bukan sekadar bahagia saja.

Sudah jelas lah ya, orang yang menerima barang kita pasti merasa bahagia. Tapi perasaan bahagia yang kita rasakan akan jauh lebih tinggi dibanding yang dia rasakan.

Semua alasan yang tadi diungkapkan itu akan sirna seketika. Alasan bahwa barang itu pemberian seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya akan tergantikan dengan rasa sangat bahagia yang muncul. Plus, bisa jadi orang yang sangat berarti dalam hidupnya itu sangat bersyukur karena barang pemberiannya berfungsi sebagai mestinya. Tidak teronggok begitu saja di sudut rumah. Tidak lagi menjadi penunggu setia di ujung lemari. Kotor dan berdebu.

Alasan bahwa barang itu harganya mahal tidak lagi berlaku. Apa sih mahal itu? Bahwa harganya sekian digit rupiah? Alasan ini hilang karena kebahagiaan yang muncul dari efek memberikan barang itu tak ternilai. Priceless!

Alasan bahwa barang itu diperoleh dengan susah payah pun sirna. Seberapa susah payah untuk membeli barang itu? Hingga berdarah-darah? Kalau pun iya, lebih konyol mana, setelah berdarah-darah untuk memperoleh barang itu, si barang nongkrong di lemari tidak digunakan sebagaimana mestinya? Atau setelah berdarah-darah, barang itu diberikan kepada orang lain dan berfungsi sebagaimana mestinya?

Jadi, jika masih ada yang merasa berat melepas barang kesayangannya, yang tidak terpakai, berikan saja kepada yang benar-benar membutuhkan. Just do it!

Kok bisa sih muncul perasaan sangat bahagia setelah kita memberikan barang? Because kindness is always free. Kebajikan itu selalu gratis. Kita hanya perlu memulainya. Dan, siap-siaplah merasakan perasaan bahagia yang tak ternilai. Kebahagiaan yang tak bisa diukur oleh uang. Because happiness is priceless.

Posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , .

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *